LINTAS NASIONAL – BIREUEN, Komunitas Baca Bireuen (Kombabir) melaksanakan kegiatan perawatan dan pelestarian (preservasi) terhadap sejumlah manuskrip kuno berupa karya-karya tulis ulama besar Aceh, Teungku Haji Usman Maqam, yang disimpan di kediamannya di Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen.
Kegiatan mingguan komunitas baca Bireuen itu merupakan upaya nyata menjaga warisan budaya dan khasanah intelektual bangsa agar tetap lestari dan dapat diwariskan ke generasi mendatang.
Ketua Pelaksana Harian Komunitas Baca Bireuen, Rizki Wahyudi. Sabtu, 20 Juni 2026 mengatakan, Teungku Usman Maqam, yang juga dikenal sebagai Teungku Chik Gandapura merupakan ulama ahli ilmu Qira’at, ilmu falak, dan berbagai disiplin ilmu keislaman. Dimana karya-karyanya menjadi rujukan penting di wilayah Aceh dan sekitarnya selama puluhan tahun.
“Naskah-naskah tersebut berisi tulisan tangan asli yang mencakup kajian Al-Qur’an, panduan ibadah, hingga pemikiran keagamaan yang sangat berharga. Namun, sebagian besar kondisinya sudah mulai rapuh, berdebu, dan terancam kerusakan akibat usia dan penyimpanan tradisional,” tuturnya.
Ia menyampaikan, kegiatan ini bukan sekadar pembersihan, melainkan langkah sistematis penyelamatan. “Kami melakukan pembersihan debu, penanganan halaman yang robek, penataan ulang, dan kedepannya akan berlanjut pada pendataan lengkap isi setiap naskah. Tujuannya agar dokumen berharga ini tidak hilang, tetap terbaca, dan nantinya bisa didokumentasikan serta dikaji kembali oleh peneliti maupun masyarakat luas,” ujarnya.
Rizki menyebut, belakangan ini Kombabir dikenal aktif menggerakkan budaya literasi dan pelestarian warisan tulis di Bireuen. Dalam hal ini, Kombabir menganggap tugas ini sebagai tanggung jawab bersama.
“Manuskrip ini adalah bukti sejarah keilmuan masyarakat kita. Jika tidak dirawat, perlahan-lahan ilmu dan pemikiran para ulama terdahulu akan hilang. Kehadiran kami di sini adalah bentuk penghormatan sekaligus langkah memastikan warisan ini tetap hidup,” tambahnya.
Ia menuturkan, kegiatan preservasi itu berlangsung selama satu hari dengan melibatkan para pegiat literasi, penggiat budaya, serta didampingi keluarga pewaris. Selain perawatan fisik, tim juga melakukan pencatatan rinci mengenai judul, isi, dan kondisi setiap naskah sebagai bahan inventarisasi awal.
Ahli waris sangat mengapresiasi inisiatif Kombabir. “Selama ini kami hanya menyimpan sebaik mungkin, namun belum memiliki pengetahuan teknis merawat naskah tua. Kini kami lega, karena ada yang peduli dan berupaya menjaga agar tulisan almarhum tetap utuh dan bermanfaat,” ungkap salah satu ahli waris.
Kedepannya, tambah Rizki, Kombabir berencana melanjutkan pendataan naskah kuno lainnya yang tersebar di berbagai desa di Bireuen, serta menjajaki kerja sama dengan lembaga kearsipan dan perpustakaan daerah agar upaya pelestarian ini berjalan berkelanjutan dan menjadi kegiatan rutin Kombabir.
“Warisan tulisan adalah identitas kita. Melestarikan manuskrip berarti menjaga akar budaya dan ilmu pengetahuan bangsa,” tutupnya. (AZ)








