LINTAS NASIONAL – JAKARTA, Tim Produksi Film “Pesta Babi” dan Andrie Yunus dari KontraS menerima penghargaan Tasrif Award 2026 dari Aliansi Jurnalis Independen. Penghargaan diserahkan dalam puncak perayaan ulang taun ke-32 AJI di Hall Dewan Pers Jakarta, Jumat malam 7 Agustus 2026
Dewan juri Tasrif Award 2026 yang terdiri dari Gema Gita Persada (LBH Pers), Daniel Awirga (HRWG) dan Ignatius Haryanto (UMN) memutuskan memilih Tim Produksi Film “Pesta Babi” dan Andrie Yunus dari KontraS dari sejumlah nama yang diusulkan AJI Kota, individu dan lembaga lainnya.
“Kandidat pertama dan kedua memiliki tema yang sama terkait dengan masalah remiliterisasi di ruang publik atau kembalinya hegemoni kekuasaan militer ke dalam ranah sipil yang mengkhawatirkan bagi kehidupan demokrasi di negeri ini,” ujar Ignatius Haryanto, dewan juri Tasrif Award 2026, Jumat malam 7 Agustus 2026
Dewan juri menilai, Tim Produksi Film “Pesta Babi” dan Andrie Yunus mewakili semangat yang dibawa oleh Bapak Suardi Tasrif almarhum yang sangat peduli pada kemerdekaan pers dan kemerdekaan berpendapat.
“Tindakan yang dilakukan oleh dua kandidat ini telah memberikan inspirasi kepada masyarakat luas akan pentingnya kemerdekaan pers dan berpendapat dengan cara-cara damai serta sebagai bentuk dalam pemenuhan hak publik atas informasi,” ujar Gema Gita Persada, dewan juri lainnya.
Tim Produksi Film “Pesta Babi” merupakan tim atau kolektif yang memproduksi film dokumenter yang mengguncang, dan setelah melewati sejumlah larangan di berbagai tempat, akhirnya film ini menjadi pembicaraan luas di berbagai tempat.
“Film ini menunjukkan kepada kita wilayah paling timur Indonesia memiliki masalah dimana militer masuk mengerjakan hal yang bukan tugas utama mereka, yaitu berpartisipasi dalam melindungi dan melaksanakan pembukaan lahan yang sangat luas dengan menyingkirkan hak masyarakat adat, fauna flora yang ada. Tindakan ini menimbulkan krisis lingkungan, sumber daya alam, dan pengabaian hak-hak asasi manusia,” ujar Ignatius Haryanto.
Perwakilan Tim Produksi Film “Pesta Babi”, Cypri Jehan Paju Dale, mengucapkan terima kasih kepada AJI dan dewan juri. Sebagai perwakilan dari tim produksi yang terdiri dari Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat, Watchdoc, Greenpeace, LBH Papua Merauke dan Ekspedisi Indonesia Baru, Cypri, menyampaikan bahwa film ini memberikan pesan penting bahwa saat ini ada kekejaman besar yang mengerikan terus terjadi di Tanah Papua.
“Film Pesta Babi ini merupakan bentuk kolonialisme di zaman kita, pelakunya adalah sebuah bangsa bernama Indonesia,” ujarnya. Keberanian orang Papua, perempuan adat, masyarakat adat yang melakukan perlawanan menjadi inspirasi dalam membuat film ini.
“Kami persembahkan pertama-tama kepada masyarakat papua. Perlawananan mereka adalah sah. Persembahan kepada kawan-kawan jurnalis dan NGO. Papua bukan tanah kosong,” pungkasnya.
Sementara itu, Andrie Yunus, Kontras adalah korban percobaan pembunuhan berencana yang dilakukan secara sistematis dan meninggalkan luka yang harus ditanggung seumur hidup. Sebagai advokat dan aktivis Hak Asasi Manusia, ia menjadi sasaran serangan setelah secara konsisten mengkritisi pembahasan RUU TNI yang dilakukan secara tertutup tanpa membuka ruang partisipasi publik yang bermakna.
“Komitmennya juga tampak dari keterlibatannya dalam berbagai advokasi strategis. Sosok ini merepresentasikan keberanian orang muda yang memilih untuk tetap bersuara dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan supremasi sipil, di tengah gempuran serangan bertubi dari lingkar kekuasaan,” ujar Gema, dewan juri.
Dimas Bagus Arya Saputra, Koordinator KontraS mewakili Andrie Yunus dengan membacakan suratnya. Pertama-tama, Andrie mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang telah diberikan. Penghargaan ini, katanya, akan menjadi terus pengingat baginya dan kawan-kawan di KontraS untuk terus bertahan dan berjuang bersama warga negarabdalam situasi sulit ini.
“Penghargaan ini merupakan penghormatan bagi seluruh korban kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia oleh aparat negara dari Aceh-Papua yang terus dibiarkan terjadi oleh negara,” ujar Dimas membacakan suratnya.
Baginya, penghargaan ini juga menjadi sebuah simbol untuk terus merekam dan mengingat brutalis militer yang tidak pernah hilang dalam sejarah republik. “Ini bukan pencapaian pribadi, bukan. Lebih besar, ini penghargaan bagi mereka yang senantiasa berada dan terus bersetia di palagan perjuangan demokrasi, keadilan dan hak asasi manusia.”
Rekam Jejak Penerima
Tim Produksi Film “Pesta Babi” terdiri dari Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat, Watchdoc, Greenpeace, LBH Papua Merauke dan Ekspedisi Indonesia Baru. Film ini merekam perampasan tanah, eksploitasi alam, deforestasi, serta operasi militer yang telah berlangsung selama puluhan tahun di Papua. Di wilayah selatan Papua, sekitar dua setengah juta hektar tanah dan hutan adat dibabat untuk proyek lumbung pangan dan energi.
Produksi film ini juga mengikuti perjuangan para korban. Mereka mengorganisasi diri, membangun solidaritas, dan menuntut keadilan ke pusat-pusat pemerintahan di Papua dan Jakarta. Pilihan judul Pesta Babi bukan hanya karena ini menjadi ritual penting masyarakat Papua dan Melanesia, tapi juga karena kombinasi gerakan kebudayaan dan keagamaan dan politik merupakan strategi penting yang dilakukan Orang Asli Papua (OAP) menghadapi gempuran perampasan tanah, eksploitasi sumber daya alam, deforestasi, dan militerisme.
Sementara itu, Andrie Yunus adalah seorang advokat publik dan aktivis hak asasi manusia lulusan Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STHI) Jentera. Ia dikenal sebagai Wakil Koordinator Bidang Eksternal di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Sebelumnya, ia meniti karir menjadi advokat publik di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta.
Di KontraS, Andrie banyak berkontribusi terhadap berbagai investigasi pelanggaran HAM, di antaranya pembunuhan dan mutilasi warga sipil di Timika, Papua Tengah, kasus kerangkeng manusia di Langkat, Sumatera Utara, penyiksaan Afif Maulana di Padang, dan penembakan demonstran warga sipil dalam konflik lahan di Seruyan, Kalimantan Tengah hingga prahara dalam kerusuhan Agustus.
Sepanjang 2025, Andrie bersama dengan Koalisi Masyarakat Sipil Reformasi Sektor Keamanan, melakukan advokasi menolak RUU TNI dengan menerobos masuk ke ruang rapat pemerintah dan DPR di hotel Fairmont Jakarta. Andrie juga memberikan keterangan sebagai saksi dalam perkara Uji Formil UU TNI di Mahkamah Konstitusi pada medio Juli 2025.
Tentang Tasrif Award
Tasrif Award diambil dari nama Suardi Tasrif, tokoh pers nasional dan Bapak Kode Etik Jurnalistik Indonesia. Semasa hidupnya, ia dikenal gigih memperjuangkan kebebasan pers dan kebebasan berpendapat, yang dianggap sebagai hak fundamental dalam pemenuhan hak asasi manusia.
Penghargaan ini pertama kali diberikan pada 1998 oleh AJI Indonesia kepada Munir, Koordinator Kontras, dan sejak itu rutin diberikan kepada individu atau kelompok yang konsisten membela kebebasan berekspresi dan kemerdekaan pers. (Red)









