
LINTAS NASIONAL – BANDA ACEH, Founder Komunitas Berucap, Suhil Alfata, menuturkan bahwa, pada era digital, kemampuan public speaking bagi pemuda buka sekadar keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan penting yang harus dimiliki.
“Hampir semua anak muda membutuhkan kemampuan ini, kecuali mereka yang berasal dari keluarga old money. Karena mereka yang bisa hidup dari harta warisan tidak harus bekerja, sehingga tidak terlalu membutuhkan kemampuan public speaking,” kata Suhil Alfata, Founder Komunitas Berucap, saat diwawancarai mengenai pentingnya kemampuan berbicara di depan umum di era modern, pada, Rabu (28/10) di Moorden Coffee Pango.
Suhil, sapaan akrab Suhil Alfata menjelaskan bahwa, ilmu akan semakin bernilai ketika disampaikan dengan baik. Ia mencontohkan, akademisi yang secara keilmuan sebenarnya lebih mumpuni daripada influencer TikTok, tetapi kalah menarik, karena belum menguasai public speaking.
“Public speaking bukan soal seberapa pintar kita menguasai kata-kata, tetapi bagaimana pesan itu disampaikan dengan baik,” ujar Suhil.
Suhil juga menyebut bahwa terdapat dua tipe orang. Kata dia, tipe pertama, orang percaya diri di depan banyak orang, sedangkan tipe kedua percaya diri di depan kamera atau media sosial, sehingga masih banyak ditemukan anak muda yang aktif di media sosial, tetapi gugup saat berbicara di depan umum.
“Karena itu, ada yang tampil berani di media sosial tetapi tidak percaya diri di dunia nyata, begitu pula sebaliknya,” jelas Suhil.
Menurut Suhil, anak muda yang percaya diri di media sosial, tetapi tidak berani di dunia nyata, pada umumnya mengalami mental block atau rasa takut dinilai dan di-judge. Padahal, kata dia, orang lain sebenarnya tidak terlalu mengingat kesalahan kita. Meski begitu, kondisi ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada mereka, sebab banyak yang berada di lingkungan yang kurang suportif secara offline dan justru lebih didukung secara online, sehingga merasa lebih nyaman di media sosial.
“Banyak yang belum sadar cara bicara sangat penting ketika masuk organisasi. Ia mencontohkan ketua himpunan yang artikulasinya keliru dan pilihan katanya kurang berwibawa, sehingga anggota mulai meragukan kepemimpinannya,” tamah Suhil.
Suhil menambahkan, di bidang akademik dan dunia kerja, kemampuan public speaking lebih penting, karena kebanyakan orang naik jenjang karier, ketika mampu berkomunikasi dengan baik kepada banyak orang.
“Kemampuan berkomunikasi dilatih sejak masa kuliah, sebelum lulus dan memasuki dunia kerja. Mulai dari cara berkomunikasi hingga cara menghadapi konflik, semuanya perlu dipelajari lebih awal,” tambah Suhil.
Suhil juga menjelaskan tentang cara melatih kepercayaan diri. Suhil berpendapat, bahwa tidak ada cara lain selain memiliki lingkungan, support system, dan orang-orang yang searah. Menurut Suhill, anak muda yang takut berbicara di depan umum perlu berada di lingkungan yang mendukung proses belajarnya.
“Inilah yang menjadi semangat Komunitas Berucap, yaitu menjadi wadah bagi pemuda untuk berlatih berbicara,” kata Suhil berkisah.
Suhil mengajak anak muda untuk menemukan tujuan sebelum belajar public speaking. Kata dia, ketika tujuan, arah, dan alasan sudah jelas, maka rasa takut lebih mudah dihilangkan dan dapat membantu sekitar 50 persen proses belajar, karena mereka tidak mudah menyerah dan siap bangkit kembali.
“Sebaliknya, yang hanya ikut-ikutan cenderung cepat menyerah, karena tujuan utama belajar public speaking adalah agar mampu bersaing di dunia kerja dan menunjukkan value diri,” tutup Suhil. [] (Uliatur Rahma, Mahasiswa Prodi KPI UIN Ar-Raniry.)








