Oleh: Saiful Qadri
Pada pertengahan 1970-an hingga 1980-an, wereng batang cokelat mengamuk di sawah-sawah Indonesia dan membuat ratusan ribu hektare padi puso. Ironisnya, ledakan itu sebagian dipicu oleh insektisida berspektrum luas yang ikut membunuh musuh alami wereng, sementara hama yang bertahan menjadi kebal dan berkembang lebih cepat.
Pemerintah lalu mengambil langkah berani. Lewat Inpres Nomor 3 Tahun 1986, 57 nama dagang insektisida untuk padi dilarang dan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) diterapkan. Sejak akhir 1980-an, serangan wereng turun drastis. Pelajarannya sederhana tetapi mahal: bergantung pada satu jenis senjata melahirkan masalah baru.
Empat dekade kemudian, pelajaran itu mulai pudar. Dokumen Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan sendiri mencatat bahwa pengendalian hama pada tanaman pangan kini cenderung kembali bertumpu pada pestisida kimia, padahal pemakaian berlebihan berpengaruh pada kesehatan manusia dan lingkungan. Di sinilah biopestisida, yaitu pestisida berbahan makhluk hidup seperti bakteri dan jamur, layak dibicarakan.
Contohnya sudah ada. Bakteri Bacillus thuringiensis (Bt) menghasilkan protein kristal yang membuat tanaman atau sasaran tahan terhadap serangga ordo Lepidoptera, seperti ulat. Jamur Beauveria bassiana dan Metarhizium menyerang serangga hama, sedangkan Trichoderma dipakai mengendalikan penyakit akar putih pada karet dan layu fusarium pada cabai. Keunggulan utamanya adalah sifatnya yang spesifik: mikroba yang baik hanya menyerang serangga sasaran, tidak jenis lain.
Tetapi biopestisida bukan pil ajaib. Di lapangan, kerjanya lambat sehingga kurang menarik bagi petani, sulit bersaing dengan pestisida sintetik yang lebih murah, dan bahan bakunya terbatas. Mutu produk di pasaran pun belum terstandar. Bt peka terhadap sinar ultraviolet. Dalam satu uji terhadap ulat bawang, produk berbahan Bt memberi efektivitas sekitar 38 persen, di bawah insektisida kimia yang sekitar 44,5 persen. Efektivitas biofungisida juga tidak bisa disamakan begitu saja dengan fungisida kimia. Siapa pun yang menjanjikan sebaliknya sedang menjual harapan, bukan sains.
Maka pertanyaannya bukan “biopestisida atau kimia”, melainkan “bagaimana kita menggeser keseimbangan”. Dalam konsep PHT, insektisida dipakai sebagai alternatif terakhir bila komponen lain tidak mampu menurunkan populasi hama. Komponen lain itu meliputi tanaman sehat, pelestarian musuh alami, dan pemantauan lapangan, dan di antaranya biopestisida. Biopestisida paling berguna ketika menjadi bagian dari sistem, bukan pengganti tunggal.
Ada empat syarat agar pergeseran itu terjadi. Pertama, standardisasi mutu dan pengawasan produk, supaya petani tidak membeli botol yang isinya tak jelas. Kedua, riset bioteknologi yang membumi: mencari strain lokal yang lebih ampuh dan memperbaiki formulasi agar tahan sinar matahari. Ketiga, pendampingan petani. Sebuah survei menemukan bahwa sebagian besar petani Sekolah Lapang PHT tergolong rendah pemakaian pestisidanya, sedangkan 70 persen petani non-peserta tergolong tinggi. Keempat, kebijakan harga dan insentif, agar pilihan yang berkelanjutan tidak selalu menjadi pilihan yang lebih mahal.
Pertanian berkelanjutan bukan berarti membuang semua yang kimia. Ia berarti berhenti menjadikannya satu-satunya pilihan. Wereng pernah mengajarkannya dengan harga ratusan ribu hektare sawah. Kita tidak perlu belajar dua kali.
*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Al-Muslim








