LINTAS NASIONAL – BIREUEN, Seorang bayi perempuan bernama Maulida Sari, warga Gampong Geulanggang Teungoh Kecamatan Kota Juang, Bireuen, terpaksa menjalani operasi stoma, agar bisa mengeluarkan feses dan gas melalui lobang buatan.
Tindakan operasi itu harus dilakukan, karena Maulida Sari lahir dengan bawaan tanpa lubang anus atau anus imperforata. Maulida Sari lahir di Rumah Sakit Avicena dengan berat badan bayi 2.7 Kg, pada 28 hari lalu, dan langsung dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zaionel Abidin, Banda Aceh.
Bayi malang itu merupakan anak keempat dari pasangan Muhammad Amri (38), buruh potong rumput untuk pakan ternak, dan Eka Wati (40) Ibu Rumah Tangga, yang menyambi sebagai buruh cuci dan setrika.
Eka yang ditemui Lintas Nasional, Minggu, 4 Oktober 2026, di kediamannya, mengatakan, bayi yang baru berusia 28 hari itu sudah menjalani satu kali operasi ostomi untuk memasang kantung khusus (colostomy) tempat penampungan feses.
“Harga satu pack Colostomy bag mencapai Rp 150 ribu rupiah, yang saya pesan melalui online shop, sementara harga disini lebih mahal dan sulit diperoleh,” ucap Eka Wati, yang mengaku kesulitan membeli colostomy, karena belum bisa bekerja pasca bersalin.
Eka menambahkan, satu colostomy bag berisi 10 pcs kantong khusus feses. Kata Eka, satu pcs colostomy yang dipasang sendiri hanya bertahan satu hari, karena mengaku tidak terlalu paham cara memakainnya.
“Sementara, kalau dipasang oleh dokter bisa bertahan sampai satu Minggu,” sebut Eka.
Eka menambahkan, bedasarkan keterangan dari dokter di RS. Zainal Abidin Banda Aceh, bayi Maulida Sari baru bisa dioperasi kembali pada usia dua bulan, bila kondisi bayi sehat.
“Pada hari Rabu lusa, Maulida Sari harus menjalani kontrol ulang dan pemeriksaan jantung di RSUD Zainal Abidin, Banda Aceh,” sebut Eka.
Sementara itu, ditengah kondisi keuangan keluarga tidak menentu, keluarga Eka harus menanggung beban berat untuk merawat Maulida Sari hingga berusia dua bulan. Mereka juga harus memenuhi kebutuhan biaya dua orang anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kondisi keluarga Eka sangat kesulitan dan membutuhkan uluran tangan para dermawan, untuk bisa meringankan beban mereka untuk merawat Maulida Sari, baik kebutuhan maupun pemeriksaan kesehatan. [] (Rahmad Maulida)
















