Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen Gelar Festival Budaya

LINTAS NASIONAL – BIREUEN, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bireuen akan menggelar lomba Festival Budaya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bireuen ke-22.

Festival Budaya Kabupaten Bireuen tersebut diselenggarakan oleh Bidang Kebudayaan Disdisbud yang akan dibuka pada Senin, 8 sampai 10 November 2021.

Festival akan diisi dengan lomba Catoe Aceh (Cabang-red), Engran (Geunteut), Suson Ranup (susun sirih), Peuayon Aneuk, dan Meurukon yang akan diikuti oleh seluruh Kecamatan di Kabupaten Bireuen.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen Muhammad Al Muttaqin, SPd, MPd melalui kepala Bidang Kebudayaan, Reza Fitria S.Si, M.Sc kepada lintasnasional.com, Jum’at 5 November 2021 mengatakan untuk 1 kategori Cabang Kecamatan akan diwakili 1 orang peserta,

“Untuk Engran satu tim (kelompok) berjumlah 3 orang peserta untuk masing-masing kecamatan, dan peserta berusia Cabang 17 sampai 20 tahun, untuk Engran 15 sampai 20 tahun, pesertanya laki-laki,” jelasnya.

Sementara untuk katagori lomba Suson Ranup, sebut Reza, jumlah peserta minimal 1 orang dan maksimal 3 orang untuk masing-masing kecamatan, serta minimal berusia 25 tahun, peserta yang tampil perempuan.

Selain itu, Reza mengatakan, untuk katagori lomba Peuayon Aneuk diwakili oleh 1 orang peserta dari masing-masing kecamatan, peserta yang tampil perempuan, berpakaian muslimah dan berumur minimal 25 tahun dan maksimal 35 tahun.

Sementara untuk lomba meurukon satu tim atau kelompok berjumlah 5 orang setiap kecamatan. Usia peserta antara 25 samapi 45 tahun. Untuk lomba Meurukon sendiri terkait dengan masalah agama diantaranya, sifeut 20, wajib iman, wajib islam, malaikat 10, nabi 25 dan tanda-tanda
kiamat.

“Hal itu sesuai dengan aturan di juknis acara lomba,” katanya.

Lebih lanjut, Reza mengatakan festival budaya itu dilaksanakan sebagai bentuk merawat dan melestarikan kembali permainan tradisional (permainan rakyat), serta untuk mengimplementasikan budaya leluhur kepada generasi mendatang.

“Ini perlu dilestarikan, mengingat semua yang dilombakan ini merupakan warisan budaya,” tutupnya.

Adapun hadaih atau biaya pembinaan yang disediakan untuk masing-masing lomba berkisar jutaan rupiah. (Adam Zainal)