Ini Menu MBG di Simpang Mamplam yang Menyebabkan Ratusan Siswa Keracunan

Menu MBG di SPPG Simpang Mamplam untuk Tiga Hari

LINTAS NASIONAL – BIREUEN, Mitra Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Simpang Mamplam Kabupaten Bireuen diduga melakukan Mark Up sehingga menyediakan Menu dengan kualitas jelek sehingga menyebabkan ratusan siswa mengalami keracunan.

Menu keringan yang diberikan pada Kamis 26 Februari 2026 yang dilaporkan oleh salah satu Wali Siswa berupa Telur 2 butir, roti dengan ukuran kecil 2 buah, kurma 5 buah, jeruk 1 buah, pisang 1 buah, Bakso 4 pcs, 1 kacang polong dalam plastik ukuran kecil.

“Porsi yang diberikan untuk Tiga Hari kedepan sangat tidak memenuhi standar kelayakan apalagi dari segi gizi, kami menduga pengelola Dapur menyediakan menu asal-asalan,” ujar salah salah wali siswa yang namanya minta tidak disebutkan

Katanya Menu keringan selama bulan Puasa sangat tidak sesuai standar Gizi, dengan porsi sangat sedikit ditambah lagi buah-buahan yang hampir busuk sehingga menyebabkan siswa yang menkonsumsi mengalami keracunan.

“Kalau seperti ini bukan Makanan Bergizi namanya dan sangat tidak layak diberikan kepada anak-anak, jeruk dan pisang yang diterima sudah mulai menghitam dan diduga sudah tidak layak konsumsi,” tuturnya

Para siswa mengalami muntah-muntah setelah menkonsumsi Menu keringan MBG yang diantar ke rumah masing-masing pada Kamis 26 Februari 2026 sore.

Informasi yang diterima media hingga Pukul 00.30 dinihari korban keracunan yang dirujuk ke Puskesmas Simpang Mamplam sudah mencapai ratusan siswa.

Sementara Zamzami, perwakilan Yayasan Bumi Produksi Gizi, mengatakan pihaknya masih menelusuri penyebab dugaan keracunan itu.

“Kami sedang mengecek di pemasok, di mana permasalahannya. Karena kami mengambil bahan dari supplier UMKM lokal. Informasi sementara mungkin di menu bakso,” ujarnya.

Ia mengatakan tim yayasan telah diturunkan untuk memeriksa seluruh rangkaian proses, mulai dari bahan baku hingga penyajian.

“Apakah dari menu atau proses lainnya, semua harus dicek,” kata Zamzami.

Menurut dia, selama Ramadan yayasan juga menyediakan menu kering sebagai alternatif. Seluruh menu, katanya, telah melalui pengawasan ahli gizi. Namun ia mengakui belum mengetahui jumlah pasti korban maupun penyebab kejadian tersebut.

“Kami berharap tidak ada korban lanjutan. Soal pertanggungjawaban, tentu kami bertanggung jawab dan akan mengevaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Zamzami. (AN)