Kisah Pasukan GAM, Diracun Serbuk Lewat Kopi dan Ikan Depik

Foto: fb Pang Ngopi

Oleh: Fauzan Azima


Sengsaranya minum racun sudah pernah kami rasakan; muntah darah, penglihatan tidak fokus dan seluruh tubuh terasa lemas seperti tidak bertulang. Lebih dari itu, semakin sempurna kesengsaraannya; sudah diracun, dikepung dan ditembaki pula.

Peristiwa itu terjadi sekitar Mei 2004 di saat GAM-RI sedang proses berunding di Helsinky, Finlandia. Eskalasi penyerangan ke kantong-kantong gerilyawan GAM semakin gencar saat berunding.

Kami terjebak di antara perkebunan masyarakat Krueng Simpur dan Matang Geulumpang Dua saat menyerahkan Panglima GAM, Muallim Muzakkir Manaf kepada pasukan Syaiful Cage sebagai Komandan Operasi Wilayah Bateeilek. Rencana kami segera kembali ke kawasan Wilayah Linge, tetapi setelah kami coba tidak bisa menembus operasi pagar betis yang sedang berlangsung di kaki Gunung Geureudong itu.

Kebetulan Pasukan GAM DIII Linge; di antaranya, Abu Pase, Pang Kaida, Pang Cut Adek, Pang Fitri, Pang Jack, Pang Kilet, Aman Rambo dan lain-lainnya sedang berada pada kawasan Matang Geulumpang Dua; sehingga saya, Wapang Halidin Gayo, Pang Nakir, Pang Bedel, Pang Raffles langsung bergabung dengan mereka, sambil menunggu keadaan benar-benar aman kembali ke kawasan Wilayah Linge.

Pada waktu itu, tidak hanya serangan dengan kekuatan militer, musuh juga mengatur strategi penyusupan dan supranatural. Bahkan mereka berhasil memasukkan racun lewat kopi dan ikan depik ke markas kami.

Racun yang kami makan dan minum adalah racun jenis serbuk yang terbuat dari serpihan emas, serpihan besi, ulat bulu, kadak bambu atau “kusim” dan kadak ilalang. Agar reaksi racunnya semakin cepat, melalui medianya dibacakan mantra-mantra dan “ditapakan” pada tempat-tempat yang angker agar niat busuk pelaku tepat pada sasarannya.

Setelah “ditapakan” tiga hari tiga malam lalu diambil dan sebagian racun serbuk itu dicampur dengan kopi dan sebagian lainnya dimasukan kepada perut ikan depik. Kemudian baru dikirim kepada kami. Tentu saja, bagi kami tidak berfikir lagi, apalagi dalam keadaan lapar semua kami santap.

Pasukan menghormati saya sebagai komandan dan mendapat jatah makan malam terlebih dahulu. Satu jam setelah makan mulai terasa sesak nafas. Saya berguling-guling menahan rasa sakitnya. Leher saya seperti terbakar dan setelah muntah darah, baru rasa sakitnya mulai hilang, tetapi tubuh saya sudah sangat lemah.

Ternyata bukan saya saja mengalami reaksi racun itu, pasukan lainnya juga demikian, tetapi tidak separah saya. Mungkin maksud bahan-bahan racun yang “ditapakan” itu sengaja diwabilkhususkan kepada saya. Sehingga reaksi pada saya lebih dahsyat ketimbang pasukan lainnya.

Pada malam itu, saya tidak bisa tidur karena menahan sakit di perut dan mulai batuk-batuk. Pada pagi harinya, kami masih sempat sarapan dan ngopi dengan perbekalan penuh racun itu. Sekali lagi saya diserang sakit yang amat sangat, tetapi kami mencurigai sedang dikepung walaupun dengan keadaan tubuh yang lemah, saya tetap ikut pasukan untuk bergeser.

Belum lama kami berpindah, tempat kami bermalam tadi sudah terdengar beberapa kali tembakan. Dari arah yang kami tuju juga terdengar tembakan, kami berbalik mencari jalan lain, namun begitu kami naik di pematang, musuh yang sudah menanti menembaki kami dari jarak lima meter.

Pang Bedel yang membawa priok berjalan paling depan dengan celana pendek, lalu kaget dan berlari melihat musuh sudah berada di pematang itu. Saya sempat melihat prioknya dan pantatnya terkena tembakan musuh. Anehnya hanya celana pendeknya yang robek, sedangkan pantatnya tidak apa-apa.

Dalam kepanikan itu, Pang Kilet yang mengambil posisi safety yang aman membalas tembakan musuh dengan AK-47, seketika senjata musuh yang semula menyalak menjadi diam. Kesempatan kami bergeser ke tepi Sungai Peusangan dekat Krueng Simpur.

Di sana kami dijemput Teungku Syaiful Cage alias “Teungku Abang” untuk bergabung dengan pasukannya. Saya nyatakan bahwa saya terkena racun serbuk. Akhirnya Tengku Abang meminta masyarakat untuk membeli “susu SGM bubuk” sebagai pertolongan pertama. Susu itu saya makan tanpa air, dengan harapan serbuk-serbuk lengket pada susu itu dan keluar melalui kotoran dari perut.

Sejak keracunan itu, saya harus melaksanakan puasa ala Nabi Daud AS; sehari berpuasa dan sehari berbuka. Pada waktu itu, sekali saja saya melanggar puasa itu, perut saya langsung sakit dan batuk berketerusan.

Penulis Merupakan Mantan Panglima GAM Wilayah Linge