
Screenshot Video akun tiktok @wakilbupati_acehutara
LINTAS NASIONAL, ACEH UTARA – Banjir bandang yang menerjang Aceh Utara beberapa waktu lalu mengakibatkan sejumlah akses jalan dan jembatan disana putus. Selain itu, banjir juga mengakibatkan sejumlah rumah warga rusak dan ratusan hektare sawah tertimbun lumpur dan gelondongan kayu.
Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi Payang mengaku bingung, asal gelondongan kayu yang menumpuk di sejumlah desa di Kecamatan Sawang, Aceh Utara yang terbawa arus banjir bandang.
“Pertanyaannya dari mana kayu ini, agak bingung ya,” kata Wabup Aceh Utara, Tarmizi Panyang dalam sebuah tayangan video di akun tiktok @wakilbupati_acehutara yang dikutip media ini, pada Minggu 21 Desember 2025.
Menurut Tarmizi, tumpukan gelondongan kayu yang terbawa arus banjir kedalam pemukiman dan lahan pertanian warga di Kecamatan Sawang, tidak sepenuhnya disebabkan oleh kikisan aliran sungai atau banjir. Tarmizi menduga, gelondongan kayu tersebut bersumber dari tumpukan kayu yang berada di wilayah hulu sungai.
“Kalau kita lihat seperti bekas timbunan di atas, entah apa disitu, kita tidak menguraikan yang disitu. Yang jelas ini bukan diangkat oleh air dari batang kayu yang masih utuh, tetapi dari tumpukan kayu di gunung sana,” sebut Tarmizi.
Menurut Tarmizi, tumpukan gelondongan kayu tidak hanya berada di Desa Babah Krueng, namun juga berada di Desa Gunci, Riseh Tunong, Riseh Baroh, Riseh Teungoh dan Lhok Bayu.
“Pemandangan gelondongan kayu itu tidak hanya di Desa Babah Krueng, kalau kita ke Gampong Gunci ditempat yang Dusunnya hilang, tumpukan kayu lebih banyak lagi, sehingga menjadi pertanyaan dan persoalan yang terjadi di Aceh Utara, khususnya di Kecamatan Sawang,” lanjut Tarmizi.
Kata Tarmizi, kondisi seperti itu mengundang pertanyaan dari berbagai pihak tentang sumber gelondongan kayu, dan persoalan yang sudah terjadi di hulu sungai Sawang.
“Banjir bandang yang melanda Kecamatan Sawang juga mengakibatkan sejumlah area persawahan hancur tertimbun lumpur yang berkisar antara 1 sampai 2 meter dan tumpukan gelondongan kayu,” tambah Tarmizi.
Tarmizi juga menyebutkan bahwa, sawah disina cukup produktif, dimana dalam satu tahun tiga kali panen, namun bencana banjir bandang telah mengubah sawah di Kecamatan Sawang menjadi tumpukan lumpur.
“Kalau saya lihat sulit untuk dibersihkan, dijadikan sawah kembali juga sulit dilakukan,” sebut Tarmizi. []
















