Daerah  

Dukung Pembangunan Berkelanjutan, GIZ Fasilitasi Kunjungan Belajar Warga Pesisir Selatan Ke TTU

LINTAS NASIONAL, NUSA TENGGARA TIMUR – Puluhan warga Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, melakukan kunjungan belajar ke Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, pada Jum’at, 25 September 2026.

Kunjungan belajar mereka yang difasilitasi Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) bertujuan untuk melihat secara langsung praktik-praktik inovatif sistem pengelolaan ketahanan pangan yang telah dikembangkan masyarakat setempat.

GIZ melalui dukungan Pemerintah Jerman, mendukung pertukaran pengetahuan, inovasi pertanian, dan pengolahan limbah organik masyarakat, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal.

Warga Kabupaten Pesisir Selatan melihat langsung penerapan Sistem Pertanian Meningkatkan Organik Tanah (SPM), metode MTOT (Mulsa Tanpa Olah Tanah), hingga pemanfaatan Eco-Enzym dalam kegiatan pertanian dan pengelolaan lingkungan.

GIZ National Communication Advisor GIZ SDGs SSTTC, Lena Herliana, S.Si., M.Ec., yang mewakili bagian komunikasi kerja sama Pemerintah Jerman, mengatakan bahwa, pembangunan berkelanjutan tidak hanya lahir dari kebijakan di tingkat nasional, tetapi juga tumbuh dari pengalaman dan inovasi masyarakat lokal.

“Dukungan kerja sama Pemerintah Jerman dalam berbagai praktik baik yang berkembang di daerah, memiliki nilai penting untuk dibagikan dan direplikasi sesuai kebutuhan masing-masing wilayah,” sebut Lena.

Kata Lena, melalui kerja sama tersebut, mereka ingin memperkuat kolaborasi ruang belajar antarwilayah, sehingga masyarakat dapat saling berbagi pengalaman, menemukan solusi yang relevan, dan mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kondisi lokal mereka.

“Program ini merupakan bagian dari dukungan Pemerintah Jerman melalui GIZ dalam penguatan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), melalui pendekatan kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular Cooperation (SSTC) bersama Sekretariat SDGs dibawah kepemimpinan Kementerian Bappenas,” tutur Lena.

Lena menambahkan, pendekatan tersebut mendorong pertukaran pengalaman antar daerah di Indonesia, sehingga keberhasilan yang lahir dari masyarakat dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lainnya.

“Pemerintah Kabupaten TTU menyambut baik kunjungan tersebut sebagai kesempatan untuk memperkenalkan berbagai inovasi yang telah berkembang di tengah masyarakat,” tambah Lena.

Kata Lena, selain menjadi sarana berbagi pengalaman, kegiatan ini juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan pertanian berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.

Sementara itu, dalam berbagai sesi kunjungan lapangan, peserta dari Pesisir Selatan berdialog langsung dengan kelompok tani dan masyarakat penerima manfaat. Mereka mempelajari proses pembuatan Eco-Enzym dari limbah organik rumah tangga, pemanfaatannya untuk pertanian ramah lingkungan, hingga penerapan teknik budidaya yang mampu meningkatkan kesuburan tanah dengan biaya yang lebih efisien.

Bagi masyarakat TTU, kehadiran peserta dari luar daerah menjadi pengakuan bahwa inovasi yang mereka bangun mampu memberikan dampak nyata. Sementara bagi peserta dari Pesisir Selatan, pengalaman tersebut menjadi sumber pembelajaran berharga yang dapat diadaptasi sesuai karakteristik wilayah mereka.

Kerja sama yang difasilitasi Pemerintah Jerman melalui GIZ dengan Sekretariat SDGs ini menunjukkan bahwa pembangunan yang inklusif dapat dimulai dari desa-desa dan komunitas lokal. Ketika pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan internasional berjalan bersama, inovasi sederhana yang lahir dari kebutuhan sehari-hari dapat berkembang menjadi solusi yang memberi manfaat luas bagi kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan hingga ke pelosok negeri. [] (AH)