LINTAS NASIONAL – MATARAM, Kolaborasi Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sigergi Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan 2026, mendorong penguatan potensi Kemiri Nusa Tenggara Barat (NTB) menuju pasar ekspor.
Launching program pemberdayaan ekosistem agroindustri komoditas kemiri di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut, dilaksanakan pada, Kamis, 24 September 2026, di Area Kantor Gubernur NTB, Kota Mataram.
Program kolaborasi tersebut melibatkan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) (PT SMF), PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) (PT PII), PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (PT SMI), PT Geo Dipa Energi (Persero) (PT GDE), Indonesia Infrastructure Finance (IIF), Karabha Digdaya (KD), dan Sejahtera Eka Graha (SEG), sementara implementasinya dilaksanakan oleh Yayasan Insan Bumi Mandiri (IBM), Non Government Organization (NGO).
Staf Ahli Menteri Keuangan, Bidang Penerimaan Negara, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Dwi Teguh Wibowo, mengatakan bahwa, Indonesia memiliki modal yang besar untuk melakukan akselerasi, mulai dari pasar domestik yang luas, bonus demografi, hingga jutaan UMKM yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.
“Karena itu, sumber pertumbuhan ekonomi perlu diperluas, tidak hanya bertumpu pada konsumsi, tetapi juga melalui inovasi, industrialisasi, dan penciptaan nilai tambah di berbagai daerah,” sebut Dwi.
Kata Dwi, tujuan akhirnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Menurut Dwi, pertumbuhan yang nyata itu adalah kesempatan bagi UMKM untuk naik kelas.
“Produk Indonesia harus memiliki nilai tambah, dan masyarakat dapat ikut menikmati kemajuan ekonomi,” ungkap Dwi.
Sebagaimana diketahui, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas kemiri yang tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Lombok, Sumbawa, dan Bima.
Komoditas yang banyak dikelola masyarakat desa ini memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk menjadi komoditas ekspor.
Melalui program tersebut, Yayasan IBM akan mendapingi sekitar 300–400 petani kemiri di Lombok, Sumbawa, dan Bima, guna meningkatkan kapasitas budidaya, pengolahan hasil panen, penguatan kelembagaan usaha, dan peningkatan akses terhadap peluang pasar.
Pengembangan program tersebut juga melibatkan local champion dari Lombok sebagai penggerak klaster kemiri, guna memperkuat kapasitas produksi dan rantai pasok melalui penyerapan hasil panen petani, keterlibatan tenaga kerja dalam proses produksi, serta dukungan terhadap pemenuhan standar produk yang dibutuhkan pasar, termasuk pasar ekspor.
Implementasi program tersebut juga memperhatikan aspek keberlanjutan melalui reboisasi serta pemanfaatan energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung terbentuknya sistem produksi yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan. [] (red)








