APDESI BIREUEN

Ucapan Idul Fitri 2021

Kim Jong Un Eksekusi Mati Pejabat yang Tidak Selesaikan Proyek

Ucapan Idul Fitri 2021

LINTAS NASIONAL – KORUT, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kembali mengeksekusi mati pejabatnya. Terbaru, Kim Jon Un dikabarkan memberi hukuman mati kepada pejabatnya karena gagal menyelesaikan proyek rumah sakit.


Kasus ini berawal saat Kim Jong Un membuka tanah yang akan dijadikan Rumah Sakit Umum Pyongyang pada Maret tahun lalu. Kim Jong Un menginstruksikan agar fasilitas itu dibangun dalam enam bulan.

Namun hingga tenggat waktunya terlewati, tempat itu belum menjalani pembukaan secara resmi karena diduga masih kosong peralatan medis. Kini, pejabat yang bertanggung jawab harus menanggung dengan nyawanya karena sudah mengabaikan instruksi Kim Jong Un.

Berdasarkan laporan Daily NK, Kim Jon Un menginginkan rumah sakit itu dilengkapi dengan peralatan kesehatan dari Eropa. Namun, si pejabat yang tak disebutkan identitasnya disebut mengajukan rencana alternatif untuk mengimpor alat kesehatan dari China yang lebih murah harganya.
Kim Jon Un yang mengetahui pembelian itu tak bisa menyembunyikan kemarahan.

Kim Jong Un langsung memerintahkan pejabat itu dihukum mati.

Dilansir Daily Mail Rabu 28 April 2021, ofisial itu disebut wakil direktur di Kementerian Luar Negeri Korea Utara. Sosok yang berusia 50-an itu merupakan pihak yang bertanggung jawab atas urusan ekspor dan impor Korut.

Selain menembak mati pejabat dari kementerian luar negeri, eksekutif dari kementerian kesehatan juga dicopot. Kim Jon Un yang menghabiskan masa kecilnya di Swiss, diyakini percaya alat buatan Eropa sudah tak diragukan kualitasnya.

Jadi, Partai Buruh Korea selaku pihak penguasa menganggarkan bujet besar untuk memenuhi keinginan pemimpin tertinggi mereka. Namun, partai kesulitan selain karena sanksi internasional juga terpaan wabah virus corona untuk mendatangkan barangnya.

Karena itu, muncul usul untuk menggunakan barang dari China yang selain murah, juga lebih mudah diimpor. Tetapi, kontrak tersebut disebut sudah ditandatangani oleh si pejabat sebelum Kim Jong Un menyetujuinya.

Analis Korea Utara Martyn Williams, yang juga menyoroti fasilitas medis itu, juga menyebutkan pengadaan peralatan jadi masalah utama. Williams menjelaskan pengadaan itu tidaklah murah, dengan tetangga Korea Selatan itu juga bukan negara yang kaya.

“Jadi, saya paham jika mereka mencoba meminta negara lain untuk mendonasikan peralatan. Tetapi ekspektasi mereka tak membuahkan hasil,” paparnya.

Peneliti di Stimson Center itu berkata, rumah sakit tersebut merupakan alat propaganda utama Pyongyang. Karena itu jika pengerjaaannya tak sesuai ekspektasi, mereka tinggal menghapusnya dari berbagai pemberitaan. Tetapi, Williams memprediksi media setempat akan kembali memberitakan secara luas jika siap untuk digunakan. (Kompas)