Pajak Payudara di India, Makin Besar Ukurannya Makin Tinggi Nilai Pajaknya

LINTAS NASIONAL – INDIA, Pernah ada kejadian nilai pajaknya suatubwarga bukan dari besar jumlah harta yang dimilikinya, melainkan tergantung seberapa besar ukuran payudaranya.

Nah, makin besar ukuran payudara seseorang maka makin besar pula tagihan pajaknya.

Gokil,sih kalo sampe beneran ada di masa sekarang..

Tapi ternyata hal ini pernah ada sebelumnya sob. Praktik yang dianggap satu di antara praktik pajak terburuk dan paling menjijikkan pernah terjadi di India. Praktik ini dilakukan sekitar tahun 1.800-an.

Baca Juga: Pecinta Kucing Musti Tau, Kalo Ada 8 Ras Kucing di Dunia yang Bikin Gemes

Tentu aja, praktik nyeleneh yang dinilai hanya melecehkan perempuan sudah lama dihapus.

Apalagi akibat pajak ini, muncul pemberontakan besar di India saat itu.

perempuan yang bernama Nangeli asal India ini memberanikan dirinya memotong payudara demi tegakkan keadilan untuk perempuan India
perempuan yang bernama Nangeli asal India ini memberanikan dirinya memotong payudara demi tegakkan keadilan untuk perempuan India ()
Dikutip eva.vn, Minggu (9/8/2020), pajak dada perempuan diberlakukan oleh Raja Travancore, satu dari 550 negara bagian di India selama masa kolonial Inggris. Negara bagian ini sekarang bernama Kerala.

Oleh karena itu, perempuan dari kelas bawah nggak bakal diizinkan untuk menutupi payudara mereka dan bila ngotot memakai penutup dada, mereka bakal dikenakan pajak yang tinggi.

ilustrasi ukuran payudara wanita
ilustrasi ukuran payudara wanita ()
Pejabat kerajaan raja akan pergi dari rumah ke rumah, mengumpulkan pajak payudara dari perempuan kelas bawah dan masa puber.

Jumlah pajak akan tergantung pada ukuran payudara, semakin besar payudara, semakin tinggi pajaknya.

Pemungut pajak memeriksa dengan menyentuh dadanya dengan tangan kosong dan mengukur ukurannya dengan sarung tangan. Perempuan dari kelas atas masih diperbolehkan untuk menutupi payudara mereka dan nggak dikenai pajak apapun.

Sementara perempuan dari kelas bawah nggak diizinkan untuk menutupi payudara mereka di depan umum kalo nggak dikenakan pajak.

Status sosial seseorang ditentukan oleh kelasnya.

Dr. Sheeba KM, profesor ekologi gender dan studi Dalit (studi suku, agama minoritas, wanita dari kelompok yang dikucilkan dalam bidang ekonomi, sosial dan politik) di Shri Shankaracharya Sanskrit Vishwavidyalaya University di negara bagian Kerala, India, mengatakan:

” tujuan pajak dada adalah untuk mempertahankan struktur kelas dan tidak ada yang lain. Pakaian dipandang sebagai tanda kekayaan dan kemakmuran, sedangkan orang miskin dan orang dari kasta yang lebih rendah tidak menikmatinya

Dalam bukunya Native Life in Travancore, penulis Samuel Mateer berbicara tentang daftar hampir 110 pajak tambahan yang hanya berlaku untuk orang-orang kelas bawah.

Ini adalah sistem yang memastikan orang dari kelas bawah selalu berada di bawah masyarakat sementara kelas lain berkembang.

Samuel Mateer mengatakan bahwa pajak payudara adalah pajak terburuk yang pernah ada di India.

Foto perempuan India bertelanjang dada yang diambil sekitar tahun 1800an. Perempuan India bertelanjang dada bukanlah budaya di sana namun karena dipaksa oleh penguasa dan payudara mereka dijadikan objek pajak. Apalagi akibat pajak ini, muncul pemberontakan besar di India saat itu

Perempuan India bertelanjang dada bukanlah budaya di sana namun karena dipaksa oleh penguasa dan payudara mereka dijadikan objek pajak. Apalagi akibat pajak ini, muncul pemberontakan besar di India saat itu

Munculkan Pemberontakan

Pajak payudara menyebabkan ketidakpuasan dalam masyarakat India hingga mencapai puncaknya pada tahun 1859, ketika dua perempuan kelas rendah ditelanjangi oleh pejabat Travancore karena mengenakan pakaian mereka.

Setelah itu, kedua perempuan itu digantung di pohon di depan semua orang sebagai peringatan, sebagai pelajaran bagi yang lain untuk berani melawan aturan.

Seorang perempuan pemberani bernama Nangeli membuat keputusan untuk mengakhiri ketidakadilan ini, untuk selamanya.

Oleh karena itu, ketika seorang petugas datang ke rumah Nangeli untuk mengambil uang, alih-alih memberikan uang kepada mereka, ia memotong dadanya sendiri dengan sabit, meletakkannya di atas daun pisang dan menyerahkannya kepada pemungut pajak.

Karena dia kehilangan begitu banyak darah, Nangeli meninggal dunia hari itu juga. Suaminya sangat putus asa sehingga dia juga mengikuti istrinya di pemakaman.

Kematian Nangeli memicu pemberontakan populer yang menyebabkan protes besar-besaran di kerajaan Travancore melawan raja.

Pemberontakan tersebut membuat raja takut, ditambah dengan tekanan dari Gubernur Madras, memaksa raja untuk memberdayakan semua wanita untuk berpakaian pada tahun 1924.

Tindakan keberanian Nangeli telah menerima hasil yang layak. Kediamannya kemudian dinamai “Mulachiparambu”, yang berarti Negeri Perempuan Berpayudara, untuk memperingati pengorbanan besar ini.

Bertahun-tahun setelah Nangeli meninggal, kisah keberaniannya masih menarik perhatian banyak orang. (Grid.id)