Ucapan Ramadhan

Tegas, Persatuan Aceh di Malaysia Tolak Rencana Indonesia Legalkan Miras

Ketua Umum Persatuan Sosialisasi Ummah Ban Sigom Aceh (SUBA) Malaysia Bukhari Ibrahim

LINTAS NASIONAL – KUALA LUMPUR, Ketua Umum Persatuan Sosialisasi Ummah Ban Sigom Aceh (SUBA) di Malaysia Bukhari Bin Ibrahim menolak tegas rencana Pemerintah Indonesia yang akan melegalkan industri minuman keras (Miras).


Hal itu disampaikan oleh Bukhari Ibrahim kepada lintasnasional.com pada Senin 1 Maret 2021, warga Aceh di Malaysia menolak keras jika Presiden Jokowi mengeluarkan aturan industri miras dari daftar negatif investasi.

“Minuman keras jelas-jelas diharamkan dalam agama islam dan dilarang dalam Undang-undang karena dapat merusak generasi, masih banyak cara yang dapat dilakukan dalam menambah pendapatan negara” kata Bukhari

Jika investasi miras di legalkan kata Bukhari akan banyak investor yang akan membangun pabrik nantinya, otomatis mereka akan mencari konsumen demi meraih keuntungan.

“Jika Indonesia melegalkan miras sungguh sebuah kemunduran, karena Indonesia dikenal dengan penduduk muslim terbesar di dunia, seharusnya yang dilakukan Pemerintah menekan peredaran miras dan narkoba untuk menyelamatkan generasi,” papar tokoh Aceh di Malaysia tersebut.

Padahal kata Bukhari di Indonesia mulai dari Presiden, Menteri, Kepala Daerah maupun DPR 90 persen berasal dari Agama Islam, sungguh disayangkan jika barang yang diharamkan bisa di legalkan.

“Apapun jenis yang memabukkan itu sangat berbahaya bagi akal manusia, makanya hukumnya haram baik yang mengkonsumsi maupun yang menjual termasuk yang berinvestasi dan memberi ruang untuk melegalkan,” tegas Bukhari

Persatuan Aceh di Malaysia berpendapat Jika di Indonesia miras dilegalkan kriminal akan bertambah merajelela dan tidak dapat dibendung karena pemabuk akal sehatnya akan hilang.

“Maraknya terjadi kriminalitas karena banyak beredar Narkoba dan minuman keras, jika itu dilegalkan akan lebih berbahaya dari wabah Covid19 yang sedang terjadi saat ini,” pungkas Pria kelahiran Idi Cut Aceh Timur tersebut (Red)