Teknologi Pertanian Modern Masuk Lipah Rayeuk, Petani Siap Tingkatkan Hasil Panen

LINTAS NASIONAL – BIREUEN, Kegiatan Khanduri Turun Sawah di Meunasah Lipah Rayeuk menjadi momentum percepatan Program Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PM-AAS) yaitu sistem budidaya padi intensif berbasis teknologi yang menekankan efisiensi, mekanisasi, dan pertanian presisi.

Program ini sekaligus mendorong petani untuk terus mengembangkan diri dan meningkatkan produktivitas pertanian.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, Mulyadi, S.E., M.M., yang melihat langsung antusiasme petani terhadap program tersebut.

Awalnya, PM-AAS direncanakan sebagai lahan percontohan seluas 13 hektare. Namun, karena tingginya minat petani, luas areal langsung dikembangkan menjadi 66 hektare dan penambahan tersebut langsung dieksekusi dalam kegiatan Khanduri Turun Sawah.

Untuk mempercepat pelaksanaan program, Kadistanbun melalui Koordinator Penyuluh berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian. Bantuan benih untuk 66 hektare mendapat persetujuan, dengan kebutuhan sekitar 70 kilogram benih per hektare.

Petani juga akan mendapatkan pendampingan maksimal dari penyuluh, mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga panen, sehingga penerapan program dapat berjalan secara optimal.

Ketua Kelompok Tani Ingin Jaya Syarifuddin, menyambut positif program tersebut. Ia menyampaikan bahwa petani sangat antusias dan berharap pendampingan serta bantuan benih dapat mempercepat pelaksanaan PM-AAS di Lipah Rayeuk.

“Petani harus mau mengembangkan diri dan terbuka terhadap teknologi serta metode budidaya baru. Petani juga tidak boleh hanya terpaku pada pola tanam lama jika ada inovasi yang dapat meningkatkan hasil,” ungkap Syarifuddin

Menurutnya, harga gabah yang baik dapat memberikan manfaat besar bagi petani. Hasil panen yang meningkat diharapkan mampu membantu petani memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus melunasi beban utang.

“Sebelumnya, petani di wilayah tersebut pernah memperoleh hasil produksi sekitar 12 ton. Pengalaman itu menjadi motivasi untuk meningkatkan produksi melalui penerapan PM-AAS dengan dukungan benih dan pendampingan penyuluh,” tutur Syarifuddin

Dengan perluasan areal dari 13 menjadi 66 hektare, Lipah Rayeuk diharapkan menjadi lahan percontohan PM-AAS sekaligus bagian dari upaya mempercepat peningkatan produksi, kesejahteraan, dan kemandirian petani di Kabupaten Bireuen. (AN)