Puluhan Hektar Padi Gogo Program Rehabilitasi di Bireuen Gagal Panen

LINTAS NASIONAL, BIREUEN – Puluhan hektar padi gogo yang ditanam melalui program rehabilitasi sawah pascabencana di Kabupaten Bireuen dipastikan gagal panen, akibat kekeringan dan kemarau yang berkepanjangan, paska dilakukan penanaman.

Informasi itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Bireuen, Mulyadi, SE., MM, menjawab Lintas Nasional, Rabu, 9 September 2026.

Mulyadi mengaku, padi gogo yang ditanam tidak dapat tumbuh dengan merata, akibat kekeringan dan kemarau panjang.

“Penanaman padi gogo kita laksanakan di Gampong Pulo Siron, Kecamatan Kuta Blang dengan luas lahan mencapai lima puluhan hektar, namun gagal tumbuh dengan merata akibat cuaca panas dan kemarau panjang,” sebut Mulyadi.

Kata Mulyadi, meskipun jenis padi gogo, namun tetap membutuhkan ketersediaan air yang cukup pada fase awal pertumbuhan kecambah, pertumbuhan perakaran, dan pertumbuhan batang padi.

“Padi gogo bukan tidak butuh air sama sekali, tetapi padi gogo sama halnya dengan tanaman jagung, disaat masa pertumbuhan membutuhkan air, kalau tidak ada air ya gagal tumbuh,” jelas Mulyadi.

Mulyadi mengaku, semua masyarakat yang mendapatkan alokasi benih padi gogo sudah melakukan penanaman, namun gagal tumbuh karena faktor cuaca.

“Semuanya sudah ditanam, cuman gagal tidak bisa tumbuh,” sebut Mulyadi.

Mulyadi menambahkan, pihaknya berkeinginan untuk kembali membantu benih padi gogo, namun akan disalurkan pada saat irigasi DI Pante Lhong sudah sempurna.

Sementara itu, Kadistanbun Bireuen juga menambahkan bahwa, dari total 2.681 sawah yang mengalami kerusakan sedang dan ringan akibat bencana banjir bandang, sebanyak 2.677 hektare sudah direhabilitasi, sementara 1.323 hektar area sawah rusak berat belum dikerjakan.

” Untuk rehabilitasi lahan sawah yang rusak berat disaat kami survey kemarin para petani rata – rata sudah mau menerima direhab sedang dan mau ikut berpartisipasi bila anggaran tidak tercukupi, seiring perjalanan waktu, bedasarkan informasi yang kami terima, ada petani yang sudah ragu-ragu, namun kami sudah mengusulkan ke pusat,” tutup Mulyadi. [] (Rahmad Maulida)