
Jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Di bawah terik matahari, Hamidiah (70), warga Gampong Cot Ara, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, duduk termenung di teras gubuk sederhana berukuran sekitar 4 × 4 meter.
Bangunan itu dirakit dari sisa material rumahnya yang hancur diterjang banjir besar Sungai Peusangan akhir November 2025 lalu.
Dinding dan atap rumah lamanya tersapu arus. Kini, Hamidiah tinggal bersama menantu perempuan dan cucunya yang berusia enam tahun di tempat darurat dari papan rusak dan seng bekas. Bangunan seadanya itu tak cukup melindungi mereka dari hujan maupun terik matahari.
Di tempat itulah Hamidiah menunggu kepastian hunian tetap (Huntap). Bukan hanya rumah yang hilang akibat banjir; lahan pertanian yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan hidup keluarganya pun tak lagi bisa diandalkan.

Di pekarangan tempat tinggal sementaranya, tumpukan pasir dan batu serta pondasi huntap terlihat terbengkalai. Rangka papan atau bouwplank yang menandai batas bangunan sudah terpasang, tetapi pekerjaan belum berlanjut.
“Sekitar sebulan yang lalu, material untuk pembangunan huntap berupa batu koral dan pasir sudah dibawa ke sini. Rangka papan juga sudah dipasang sebagai tanda pembangunan dimulai, tetapi belum ada kepastian kapan pekerjaan benar-benar berlanjut,” kata Hamidiah kepada wartawan Lintas Nasional, Rabu, 22 Oktober 2026.
Pembangunan rumah Hamidiah baru sampai tahap pondasi. Setelah itu, para pekerja tak lagi terlihat. Kondisi serupa, menurut Hamidiah, dialami sejumlah korban banjir lain di gampong tersebut.
“Rumah saya baru dibangun sebatas pondasi, tetapi kemudian tidak dilanjutkan dan ditinggalkan begitu saja. Begitu juga dengan sejumlah rumah milik korban banjir lainnya di Gampong ini,” tuturnya.

Kehilangan rumah bukan satu-satunya persoalan yang harus dihadapi Hamidiah. Lahan pertanian yang selama ini digarap keluarganya kini tertimbun lumpur dan tak lagi dapat ditanami. Hamparan itu berubah menjadi lahan luas yang rata setelah terdampak bencana dan penanganan menggunakan alat berat.
“Lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan kami kini tertimbun lumpur, sehingga tidak bisa lagi ditanami padi atau tanaman lain. Kami tidak punya lahan untuk bercocok tanam, sementara belum ada pekerjaan lain yang bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya lirih.
Menunggu Rumah di Usia Senja
Nasib serupa dialami pasangan Yahya (81) dan Rohana (58), warga Gampong Blang Mee. Banjir besar pada akhir November 2025 menghanyutkan rumah sekaligus tanah tempat mereka tinggal selama puluhan tahun. Karena lokasi lama telah tergerus sungai, keluarga ini harus direlokasi ke tempat yang lebih aman.
Kini, Yahya dan Rohana menumpang di rumah menantu mereka. Di tengah ruang yang terbatas, keduanya masih menanti kepastian pembangunan huntap di lokasi yang telah disediakan pemerintah.
Rohana menundukkan pandangan ketika menceritakan penantian itu. Matanya berkaca-kaca saat mengingat pendataan yang dilakukan sekitar sebulan setelah bencana.
“Kami termasuk keluarga yang memenuhi kriteria sebagai penerima huntap. Saat itu, kami berharap bisa segera mendapat tempat tinggal baru. Namun, sampai sekarang belum ada tanda-tanda pembangunan benar-benar dimulai,” katanya.
Usia yang kian lanjut dan kondisi Yahya yang tak lagi mampu bekerja membuat beban hidup mereka semakin berat. Rohana berharap rumah baru bagi mereka segera dibangun agar penantian panjang itu tidak terus berlanjut.

Iswardi, perangkat Gampong Blang Mee yang menjabat kepala Dusun, mengatakan pemerintah desa telah menyerahkan data final korban banjir kepada Pemerintah Kabupaten Bireuen sejak Februari. Namun, hingga kini pihak desa belum menerima informasi resmi mengenai relokasi dan pembangunan huntap bagi warganya.
“Sebelas rumah beserta tanahnya hilang total dibawa banjir, tetapi belum satu pun direlokasi dan dibangun. Para korban sering datang mengadu ke kantor desa. Informasi yang kami terima dari Pemkab melalui BPBD, pembangunan Huntap merupakan wewenang BNPB melalui vendor atau rekanan yang ditunjuk,” kata Iswardi.
Tanah Tempat Rumah Berdiri Ikut Hilang
Bagi sebagian korban di Blang Mee, bencana bukan sekadar merobohkan bangunan. Tanah tempat rumah berdiri pun ikut terkikis dan menjadi bagian dari aliran Sungai Peusangan.
Keuchik Blang Mee, Ferizal, menyebut sebelas rumah beserta tanah seluas sekitar 10.000 meter persegi hilang tergerus sungai.
“Mereka tidak hanya kehilangan bangunan. Tanah tempat rumah berdiri kini sudah menjadi bagian dari aliran sungai. Huntap harus dibangun di lahan baru yang aman, jauh dari bantaran sungai,” ujar Ferizal.
Menurut Ferizal, berdasarkan informasi dari BNPB yang diteruskan melalui pemerintah daerah, warga yang kehilangan rumah sekaligus tanah akan dipindahkan ke lokasi relokasi. Ada beberapa pilihan yang disiapkan.
“Jika warga memiliki tanah sendiri di tempat lain, huntap akan dibangun di atas lahan tersebut. Jika tidak memiliki tanah pribadi, huntap komunal akan dibangun di lahan yang disiapkan pemerintah desa. Namun, sampai sekarang belum ada kepastian resmi kapan pembangunan dimulai,” jelasnya.
Sebanyak 1.503 Rumah Rusak Berat
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bireuen, Marwan, mengatakan pendataan berjenjang yang dilanjutkan dengan verifikasi faktual BNPB mencatat 1.503 rumah mengalami kerusakan berat atau hancur total. Setiap unit rumah direncanakan dibangun kembali dengan anggaran Rp70 juta.
“Hingga Oktober 2026, sebanyak 88 rumah telah selesai dibangun dan ditempati warga di 10 kecamatan. Rinciannya, 40 unit dari BNPB, 41 unit bantuan CSR PT Blang Ketumba, dan tujuh unit dari PT Takabeya Perkasa Group,” kata Marwan saat dikonfirmasi, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Saat ini, pembangunan 347 unit rumah sedang berjalan dan ditargetkan selesai pada Desember 2026. Adapun 1.068 unit lainnya masih menunggu arahan dari BNPB.
“Untuk pembangunan yang terhenti seperti yang dialami Hamidiah, pelaksana sebelumnya sempat ragu karena skema pembayaran belum jelas. Namun, setelah rapat koordinasi bersama BNPB, pemerintah daerah, dan rekanan, pembangunan akan segera dilanjutkan. Pembayaran juga akan diproses oleh pemerintah pusat,” ujar Marwan.
Dari total 1.503 keluarga terdampak, sebanyak 703 keluarga membutuhkan relokasi karena tanah tempat tinggal mereka hilang atau tidak lagi aman. Sebanyak 604 keluarga akan melakukan relokasi mandiri di atas tanah sendiri, sedangkan 99 keluarga lainnya akan menempati huntap komunal di atas lahan milik pemerintah desa.
“Seluruh 1.503 unit akan dibangun secara bertahap hingga 2028 sesuai rencana pemerintah pusat. Pemkab Bireuen terus mengawal agar bantuan tepat sasaran dan sampai tepat waktu kepada warga yang membutuhkan,” pungkas Marwan. (**)








