Daerah  

Prihatin Kondisi Satwa, Geopix Kritik Pembukaan Bandung Zoo

LINTAS NASIONAL, YOGYAKARTA – Geopix kembali menyampaikan kritikan dan keprihatinan serius atas pembukaan Bandung Zoo untuk kunjungan publik, tanpa melalui proses evaluasi maupun audit pengelolaannya yang disampaikan kepada publik.

Kritikan itu disampaikan menyusul temuan dugaan kondisi satwa liar yang dilindungi, termasuk Orangutan, Gajah, dan Monyet Hitam yang membutuhkan perhatian dan evaluasi mendesak oleh para pihak, terutama terkain kondisi pemeliharaannya.

“Keselamatan dan kesejahteraan satwa harus menjadi prasyarat kunci, sebelum kebun binatang dibuka kembali untuk publik dalam konflik berkepanjangan pengelolaan Bandung Zoo yang berlangsung,” kata Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix dalam keterangan tertulis yang dikutip media ini, pada Sabtu 17 Januari 2026.

Annisa mendesak lembaga pengelola Bandung Zoo, Pemerintah Kota Bandung dan Kementerian Kehutanan agar mempertingkan kembali pembukaan kebun binatang, tanpa memastikan kondisi satwa dan standar pengelolaan yang benar-benar layak.

“Kelayakan pembukaan tidak sekedar terpenuhinya kebutuhan pakan yang telah dilakukan oleh Kementerian Kehutanan, tetapi para pihak juga harus memastikan aspek-aspek pengelolaan lainnya telah siap secara utuh, seperti kesejahteraan tenaga kerja dan kesejahteraan satwa,” sebut Annisa.

Annisa mengaku, pihaknya menemukan dugaan kondisi Orangutan, Gajah dan Monyet Hitam yang stress dan sangat mengkhawatirkan.

Sementara itu, Indira Nurul Qomariah, Senior Biologist dan Wildlife Curator – Center for Orangutan Protection menambahkan, pada primata termasuk orangutan dan monyet hitam, kebotakan di lengan dan kaki bawah dapat disebabkan oleh adanya penyakit kulit, malnutrisi, atau stres (akibat kebosanan atau kebiasaan kompulsif) yang memicu perilaku seperti overgrooming.

“Kebotakan dapat juga disebabkan oleh penyakit genetik seperti alopecia. Perlu dilakukan pemeriksaan medis dan observasi perilaku lebih lanjut untuk memastikan penyebab kebotakan tersebut,” jelas Indira.

Selain itu, Indira juga menyoroti kondisi Gajah yang diduga menunjukkan gejala stres yang serius. Kata Indira, Gajah menunjukkan perilaku stereotip berupa swaying atau gerakan berulang tanpa tujuan, yang termasuk indikator stres.

“Kondisi itu dapat disebabkan karena lingkungan yang tidak mendukung kesejahteraan satwa, antara lain kurangnya pengayaan (enrichment) atau kebutuhan sosial seperti bersosialisasi dengan gajah lainnya,” tambah Indira.

Desakan Geopix

Pembukaan kebun binatang Bandung Zoo untuk publik di tengah indikasi terjadinya gangguan kesejahteraan satwa justru berpotensi memperburuk kondisi satwa, dan mencerminkan kegagalan tata kelola konservasi ex-situ di Indonesia.

Otoritas publik memiliki tanggung jawab hukum dan moral untuk memastikan seluruh lembaga konservasi mematuhi standar kesejahteraan satwa, transparansi pengelolaan, dan pengawasan yang ketat.

Karena itu, Geopix mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi satwa dan fasilitas kandang, audit independen oleh otoritas dan tenaga ahli kompeten, transparansi kepada publik terkait kondisi kesehatan dan perawatan satwa dan penundaan pembukaan hingga standar kesejahteraan satwa benar-benar terpenuhi.

Geopix menegaskan kondisi satwa, khususnya satwa liar yang dilindungi di Bandung Zoo ini, merupakan fenomena gunung es terkait kesejahteraan satwa di kebun binatang dan lembaga konservasi di seluruh Indonesia. Kepercayaan publik terhadap lembaga konservasi hanya dapat dibangun melalui komitmen nyata terhadap perlindungan dan kesejahteraan satwa di dalamnya. [] (AH)